Klenteng Sam Poo Kong Semarang

Satu di antara destinasi wisata terkenal di Semarang yaitu Sam Poo Kong yang menghadirkan suasana wisata rasa Tionghoa.

Penulis: Anasmk
Editor: Ahmad Nur Rosikin
Tribunjatengwiki.com/Muhammad Khoiru Anas
Gerbang utama Sam Poo Kong sebagai ucapan selamat datang bagi wisatawan, Selasa (31/12/2019) 

Daftar Isi

Sejarah Singkat Sam Poo Kong
Lokasi
Gambaran Komplek Sam Poo Kong
Jam Operasional
Harga Tiket

TRIBUNJATENGWIKI.COM, SEMARANG - Berkunjung ke Semarang satu di antara destinasi wisata selalu ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah ialah Sam Poo Kong.

Bangunan berornamen Tionghoa dengan ciri khas ujung atap berbentuk runcing, bersusun, dengan dominasi warna merah menjadikan wisatawan yang datang ke tempat ini seperti mengunjungi negeri Tirai Bambu.

Tidak hanya itu keindahan tak kalah menarik ialah lampion menggantung di berbagai sudut bangunan, patung prajurit berkostum khas Tionghoa, patung naga yang menempel diantara atap, dinding bangunan, dan berbagai macam peralatan sembahyang seperti dupa turut serta menambah ke khasan tempat ini.

Sejarah Singkat Singkat Sam Poo Kong

Menurut pemandu wisata Sam Poo Kong Yusuf Kurniawan yang ditemui Selasa (31/12/2019), sejarah berdirinya Sam Poo Kong di mulai sekitar tahun 1406 ketika Laksmana San Poo Tay Djien atau akrab disapa Laksamana Zheng He atau Cheng Ho berlayar bersama awak kapalnya melewati laut jawa.

Dinasti Ming mengutus Cheng Ho sebagai duta perdamaian menyusuri lautan dan singgah ke berbagai kerajaan yang ada di dunia membawa pesan perdamaian.

Dalam perjalanan, sekitar tahun 1416 awak kapal yang bernama Wang Jing Hong mengalami sakit keras.

Cheng Ho kemudian memutuskan berlabuh di pantai Simongan dan merawatnya di Gua Batu.

Karena dikejar waktu, Cheng Ho melanjutkan perjalanan dan meninggalkan Wang Jing Hong di Simongan bersama awak kapal lain yang turut serta menemani.

Patung Laksamana Cheng Ho jadi spot foto menarik bagi wisatawan, (31/12/2019)
Patung Laksamana Cheng Ho jadi spot foto menarik bagi wisatawan, (31/12/2019) (Tribunjatengwiki.com/Muhammad Khoiru Anas)

Pulih dari sakit yang diderita Wang Jing Hong bersama awak kapal berkativitas dari berdagang hingga membangun tempat tinggal yang menjadikan lambat laun daerah tersebut berkembang pesat kemajuannya.

Kepada masyarakat sekitar Wang Jing Hong sering bercerita tentang Laksamana Cheng Ho yang menurutnya selain beraga Islam beliau juga sosok yang patut diteladani.

Sebagai penghormatan atas jasa dan keteladan Cheng Ho, tahun 1417 Wang Jing Hong bersama awak kapal yang tinggal di Simongan dibantu warga sekitar membangun patung Laksamana Cheng Ho di Gua Batu.

Sekitar umur 87 tahun Wang Jing Hong tutup usia dan dimakamkan di sekitar Gua Batu.

Atas jasa dan pengabdiannya, masyarakat setempat menyebut Wang Jing Hong sebagai Kyai Juru Mudi.

Tempat pemujaan makam Kyai Juru Mudi
Tempat pemujaan Kyai Juru Mudi (Tribunjatengwiki.com/Muhammad Khoiru Anas)

Tahun 1704 akibat badai dan tanah longsor Gua Batu runtuh.

Masyarakat membangun gua buatan dan bersebelahan dengan makam Wang Jing Hong.

Demi menghormati jasa leluhur, tahun 1965 Thio Siong Thouw mendirikan Yayasan Sam Poo Kong.

Tahun 2002 pemugaran dan revitalisasi besar-besaran dilakukan Sam Poo Kong.

Ikuti kami di
KOMENTAR
26 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved