Pasar Rakyat Peterongan

Inilah Beberapa Mitos yang dipercaya Banyak Orang, Terkait Pohon Asam di Pasar Peterongan

Pohon asam sekaligus Punden Mbah Gosang ternyata punya beberapa hal unik yang dipercaya banyak orang memiliki beragam mitos.

Penulis: Anasmk
Editor: Ahmad Nur Rosikin
IST
Berusia sekira ratusan tahun, pohon asam di area luar Pasar Peterongan tersebut konon memiliki beragam cerita magis. 

TRIBUNJATENGWIKI.COM, SEMARANG - Selain menjadi bagian dari sejarah Pasar Peterongan, pohon asam sekaligus Punden Mbah Gosang ternyata punya beberapa hal unik yang dipercaya banyak orang memiliki beragam mitos.

Seperti mitos siapa saja yang berziarah dipohon asam, segala urusan akan dipermudah.

Menurut Cokro pedagang sekaligus juru kunci pohon asam menceritakan, sejak dulu pohon asam sekaligus punden Mbah Gosang sering didatangi banyak orang untuk ngalap atau mencari berkah.

"Sebelum direvitalisasi, dulu orang-orang banyak berdatangan ke sini.

Mereka berziarah dan meminta berkah supaya setiap hajat dapat terkabul, serta mendapat kemudahan segala urusan," tutur Cokro, Senin (20/7/2020).

Sampai sekarang kebiasaan orang untuk datang berziarah di pohon asam ini masih sering dilakukan, terutama ketika malam Jumat Kliwon dan bulan Sura.

"Malam Jumat dan bulan Sura jadi waktu yang sering didatangi banyak orang untuk berziarah," cerita Cokro kembali.

Keunikan lain yang dipercayai banyak orang ialah berkembangnya mitos akan terkena balak atau mengalami celaka jika pohon tersebut ditebang.

Oleh karena itu pohon yang telah berusia ratusan tahun tersebut dibiarkan hidup, dan jadi salah satu tetenger atau penanda dari Pasar Peterongan.

Keunikan lain serta menarik terkait pohon asam di Pasar Peterongan ialah, konon buah yang dihasilkan tidak memiliki biji sepertti pohon asam yang lain.

"Buah yang dihasilkan dari pohon asam ini tidak berbiji, tidak seperti pohon asam pada umumnya," pungkas Cokro.

Hal ini menjadikan pohon ini tak hanya sebagai tetenger Pasar Peterongan, ternyata juga memiliki nilai historis yang unik dan perlu dilestarikan sebagai bagian dari kearifan lokal di Kota Lumpia ini. 

(TRIBUNJATENGWIKI.COM/Muhammad Khoiru Anas)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved